Minggu, 27 Maret 2016

Sholat Jamaah Si Kecil

Bismillahirrohmanirrohiim

Minggu siang di Kupang terasa amat terik. Kami memutuskan untuk menghadirkan pengalaman sholat berjamaah untuk si kecil. Pukul 11 lewat 30 menit kami bersiap berangkat dengan motor bebek butut kami. Sekitar 20 menit kami sudah tiba di Mesjid Nurul Hidayah Kelapa Lima. Sebuah mesjid yang berdiri di atas karang di tepi laut. Deburan ombak bersahutan dengan kumandang adzan dari pengeras suara. Alhamdulillah, kami datang tepat waktu. Segera kami berwudhu kemudian menuju dalam mesjid. Angin laut yang lembut berhembus menambah kenyamanan bagi siapa saja yang ada di dalam mesjid. Si kecil bersiap sholat, namun sayang kehadiran orang asing membuatnya takut. Ia masih ikut dengan saya. Ketika ada orang lain yang merapatkan shaf di samping saya menggeser tubuh mungilnya, seketika raut wajahnya berubah. Hendak menangis. Dia berdiri di hadapan saya, wajah putihnya kemerahan, matanya berair, bibirnya melengkung ke bawah. Oooh... tak tega bunda,nak. Segera saya batalkan sholat yang hampir 2 rokaat. Saya gendong ia ke shaf belakang, sebentar saya peluk untuk menenangkannya. Saya bisikan kalimat Allah, Allahuakbar, ia pun mengerti bahwa saya harus sholat. Ia segera berdiri di samping saya, kemudian saya mulai sholat kembali. Alhamdulillah, ia tenang kembali. Yah, masih belum berhasil,nak. Tapi tak mengapa. Kelak kau juga akan mengerti. Suatu saat kau akan terbiasa dengan orang asing yang sejatinya adalah saudara kita juga. Bunda sematkan do'a untuk mu agar kelak kau menjadi lelaki yang mencintai agama mu juga menjadi lelaki yang mencintai sholat berjama'ah. Aamiin

Kupang, 27 Maret 2016

Bersyukur Tanpa Syarat

Bismillahirrohmanirrohiim,
Mengapa saya selalu mengawali tulisan dalam blog saya dengan kalimat itu? Simple saja, karena saya tahu Allah pasti mengetahui apa yang saya tulis. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah sangat baik pada saya. Allah memberi saya hidup, memberi saya rezeki, memberi saya jodoh, memberi saya kasih sayang dari kedua orang tua saya, memberi saya saudara saudari yang selalu mendoakan dan mengingatkan saya, memberi saya fisik yang utuh,memberi saya akal, memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri, dan masih banyak lagi pemberianNya yang tak bisa saya hitung. Tapi, jahatnya saya ketika Ia menguji saya. Sabar saya masih memiliki batas. Hati saya masih tipe kecil buat menampung rasa kecewa dan sedih. Seketika saya jadi amnesia dengan nikmat-nikmatNya. Saya lupa dengan apa yang telah Ia berikan pada saya.  Astagfirullah...

Saya sebelumnya memiliki karier, namun harus saya lepaskan demi keluarga. Bukan, ini bukan pengorbanan, terlalu dramatis jika dikatakan pengorbanan. Ini adalah cinta. Ada ikatan cinta yang membuat saya memilih keluarga daripada karier. Saya menikah dengan tujuan ibadah, sehingga apapun yang saya lakukan ingin sekali bernilai ibadah. Termasuk ketika saya putuskan untuk menanggalkan karier saya. Jenuh, ya sudah pasti. Namun, di situlah saya menyadari betapa rasa syukur saya pada Allah masih bersyarat. Saya hanya merasa bersyukur ketika saya menikmati nikmat, namun kemudian saya mengutuk nasib ketika saya tidak menikmati ujian. Tidak jarang saya merasa sedih. Saya merasa kesepian. Saya merasa tidak berharga tanpa karier. Saya merasa lelah. Saya merasa jenuh. Saya merasa sumpek dengan apa yang saya hadapi sehari-hari. Sungguh,saya dibutakan oleh hal-hal yang membuat rasa tak bersyukur saya semakin menjadi-jadi. Astagfirullah...

Saya harus memperluas tipe hati saya,dan membuka luas pikiran saya. Setiap malam, saya menjadi orang yang terakhir tidur. Saya pandangi wajah si kecil. Betapa damainya ia tidur. Seakan lupa pada tingkahnya yang seharian membuat saya geram. Tapi, dari wajah teduhnya saya diingtakan untuk menjaganya. Si kecil adalah milik Allah yang harus saya jaga. Si kecil Allah titipkan pada saya bukan untuk dimarahi, tapi diberi arahan agar ia mengerti. Si kecil adalah amanah yang mencerminkan diri saya. Baik buruknya akhlak si kecil di dunia memperlihatkan bagaimana orang tua mendidiknya. Apalagi di akhirat nanti, saya tak sanggup membayangkannya ya Allah... azab Mu pasti amat pedih bagi kami yang salah mendidiknya.

Suami adalah teman hidup yang menjadi partner saya dalam menjalani rumah tangga. Dia adalah imam saya, namun saya harus membuka mata lebar-lebar pada apa yang ia lakukan untuk menunjukan kasih sayangnya pada kami. Ini yang sering luput dari saya. Maafkan diri ini, suamiku. Allah memberi begitu banyak kelebihan pada mu untuk menutupi apa yang kurang dari diri ini. Setelah lelah bekerja, dirimu tetap mengulurkan tanganmu memberiku bantuan untuk mencuci piring kotor, menyetrika pakaian yang belum sempat ku selesaikan, membersihkan lantai, juga memasak nasi untuk kita. Ya Allah, inilah syurga yang sering saya lewatkan begitu saja. Betapa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya amat banyak nikmat yang Engkau berikan, namun amat sering saya abaikan. Ampuni hamba ya Allah...

Sungguh, bersyukur semestinya tanpa syarat. Bersyukur itu kapan saja. Bersyukur itu dimana saja. Apa yang Allah berikan SUDAH PASTI YANG TERBAIK UNTUK KITA. Jadilah pribadi yang pandai bersyukur, Allah pasti akan menambahkan nikmatNya untuk kita

Selasa, 22 Maret 2016

Hobi Lama Rasa Baru

Bismillah,
Hai, salam kenal dari saya,blogger amatir yang sedang berusaha menghidupkan kembali hobi lama dengan rasa baru. Saya Riovani Dian, seorang bunda dari seorang anak laki-laki berusia 18 bulan. Saya meninggalkan pekerjaan saya di sebuah sekolah swasta dua tahun lalu, karena memilih untuk menjadi penyeimbang suami dalam menjalani rumah tangga. Saya dan suami berkomitmen untuk membagi urusan dalam dan luar negeri rumah tangga kami sesuai peranan kami. Kami meyakini bahwa kami adalah tim yang harus saling dukung agar rumah tangga kami berjalan sesuai dengan yang kami impikan.
Sebagai penyeimbang suami, saya bertugas memberikan yang terbaik untuk membuat rumah yang kami tempati menjadi sesuatu yang selalu suami ridukan setiap hari. Tidak hanya bersih, tapi juga nyaman untuk melepaskan penat. Selain itu,si kecil juga menjadi fokus kami. Si kecil adalah pusat dari semua yang kami upayakan. Kami ingin memberinya kehangatan dalam pelukan perhatian yang sesungguhnya.
Setiap hari menghabiskan waktu di rumah, membuat saya ingin tetap berkarya. Meskipun suasana nya jauh berbeda, tidak seperti saat saya aktif bekerja keluar rumah, namun saya tetap ingin bisa berkarya dan menebar manfaat. Menghidupkan kembali hobi menulis yang sudah sejak meninggalkan bangku kuliah jarang saya giatkan kembali, kini harus saya mulai lagi dari nol. Semoga blog ini bisa membuat hobi lama yang kini terasa baru kian bermanfaat. Tak saja hanya bagi saya, tapi juga bagi pengunjung blog Riovani Dian's.
Wassalam :-)