Bismillahirrohmanirrohiim,
Mengapa saya selalu mengawali tulisan dalam blog saya dengan kalimat itu? Simple saja, karena saya tahu Allah pasti mengetahui apa yang saya tulis. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah sangat baik pada saya. Allah memberi saya hidup, memberi saya rezeki, memberi saya jodoh, memberi saya kasih sayang dari kedua orang tua saya, memberi saya saudara saudari yang selalu mendoakan dan mengingatkan saya, memberi saya fisik yang utuh,memberi saya akal, memberi saya kesempatan untuk memperbaiki diri, dan masih banyak lagi pemberianNya yang tak bisa saya hitung. Tapi, jahatnya saya ketika Ia menguji saya. Sabar saya masih memiliki batas. Hati saya masih tipe kecil buat menampung rasa kecewa dan sedih. Seketika saya jadi amnesia dengan nikmat-nikmatNya. Saya lupa dengan apa yang telah Ia berikan pada saya. Astagfirullah...
Saya sebelumnya memiliki karier, namun harus saya lepaskan demi keluarga. Bukan, ini bukan pengorbanan, terlalu dramatis jika dikatakan pengorbanan. Ini adalah cinta. Ada ikatan cinta yang membuat saya memilih keluarga daripada karier. Saya menikah dengan tujuan ibadah, sehingga apapun yang saya lakukan ingin sekali bernilai ibadah. Termasuk ketika saya putuskan untuk menanggalkan karier saya. Jenuh, ya sudah pasti. Namun, di situlah saya menyadari betapa rasa syukur saya pada Allah masih bersyarat. Saya hanya merasa bersyukur ketika saya menikmati nikmat, namun kemudian saya mengutuk nasib ketika saya tidak menikmati ujian. Tidak jarang saya merasa sedih. Saya merasa kesepian. Saya merasa tidak berharga tanpa karier. Saya merasa lelah. Saya merasa jenuh. Saya merasa sumpek dengan apa yang saya hadapi sehari-hari. Sungguh,saya dibutakan oleh hal-hal yang membuat rasa tak bersyukur saya semakin menjadi-jadi. Astagfirullah...
Saya harus memperluas tipe hati saya,dan membuka luas pikiran saya. Setiap malam, saya menjadi orang yang terakhir tidur. Saya pandangi wajah si kecil. Betapa damainya ia tidur. Seakan lupa pada tingkahnya yang seharian membuat saya geram. Tapi, dari wajah teduhnya saya diingtakan untuk menjaganya. Si kecil adalah milik Allah yang harus saya jaga. Si kecil Allah titipkan pada saya bukan untuk dimarahi, tapi diberi arahan agar ia mengerti. Si kecil adalah amanah yang mencerminkan diri saya. Baik buruknya akhlak si kecil di dunia memperlihatkan bagaimana orang tua mendidiknya. Apalagi di akhirat nanti, saya tak sanggup membayangkannya ya Allah... azab Mu pasti amat pedih bagi kami yang salah mendidiknya.
Suami adalah teman hidup yang menjadi partner saya dalam menjalani rumah tangga. Dia adalah imam saya, namun saya harus membuka mata lebar-lebar pada apa yang ia lakukan untuk menunjukan kasih sayangnya pada kami. Ini yang sering luput dari saya. Maafkan diri ini, suamiku. Allah memberi begitu banyak kelebihan pada mu untuk menutupi apa yang kurang dari diri ini. Setelah lelah bekerja, dirimu tetap mengulurkan tanganmu memberiku bantuan untuk mencuci piring kotor, menyetrika pakaian yang belum sempat ku selesaikan, membersihkan lantai, juga memasak nasi untuk kita. Ya Allah, inilah syurga yang sering saya lewatkan begitu saja. Betapa menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya amat banyak nikmat yang Engkau berikan, namun amat sering saya abaikan. Ampuni hamba ya Allah...
Sungguh, bersyukur semestinya tanpa syarat. Bersyukur itu kapan saja. Bersyukur itu dimana saja. Apa yang Allah berikan SUDAH PASTI YANG TERBAIK UNTUK KITA. Jadilah pribadi yang pandai bersyukur, Allah pasti akan menambahkan nikmatNya untuk kita