Rabu, 27 April 2016

Ibu Cerdas, Ayo Gabung Komunitas!

Anda ibu rumah tangga yang punya segudang ide? Ingin berbagi ide serta pengalaman? Atau sekedar butuh wadah menumbuhkan bakat? Ayo gabung di komunitas! Komunitas untuk ibu rumah tangga? Memangnya ada? Jelas ada! 

Era digital seperti sekarang, membuat jarak seolah tak memiliki arti. Kita bisa berkomunikasi dengan siapa saja dari mana saja. Bersosialisasi dapat dilakukan meskipun tidak setiap hari bertatap muka. Namun alangkah sayangnya jika hanya dimanfaatkan untuk sekedar membicarakan hal yang kurang bermanfaat. Bergabung dalam komunitas memiliki beragam keuntungan. Diantaranya, memiliki banyak teman untuk bertukar ide serta pengalaman hingga menghasilkan karya secara bersama-sama. Bayangkan betapa menyenangkan jika di sela-sela waktu yang kita miliki bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang bernilai manfaat sekaligus menambah saudara.
Cerdas dalam memilih komunitas, menjadi penentu tercapainya tujuan yang ingin diraih. Karena dengan memiliki pengetahuan tentang suatu komunitas, kita bisa menentukan komunitas apa yang bisa menjawab kebutuhan kita. Pilihlah komunitas yang bisa mendorong anggotanya untuk kreatif dan produktif dalam berkarya. Komunitas yang sehat, tentu akan membuat anggotanya aktif dan berani memunculkan ide kreatif hingga menjadi sebuah karya. Mau menjadi makin cerdas dengan berkarya? Pasti mau dong! 

Komunitas Ibu Ibu Doyan Nulis (IIDN) merupakan salah satu komunitas yang patut diusut eksistensinya. Mengapa? Karena komunitas yang telah berdiri sejak Mei 2012 ini sudah memiliki ribuan anggota yang didominasi ibu rumah tangga dari berbagai wilayah di Indonesia bahkan di manca negara. Komunitas ini memiliki kegiatan yang tidak biasa dilakukan ibu rumah tangga. Komunitas ini menjadi wadah bagi perempuan untuk menggali ide, menghasilkan karya, juga memberi dukungan untuk terus produktif menulis. Tak heran jika anggota komunitas IIDN ada yang telah menjadi penulis profesional. Sambil belajar bisa bersosialisasi, bahkan bisa menghasilkan uang. Siapa mau? Saya! (sambil menunjuk diri sendiri). 

Yuk kita produktif dalam berkarya. Ajakan ini serius lho! Saya ingin sukses lewat apa yang saya bisa lakukan saat ini. Membagi waktu mengurus rumah tangga, dan memanfaatkan “me time” dengan menulis. Kapan lagi bisa gabung di komunitas yang mewadahi, membimbing, dan menyalurkan hobi sekaligus? Semoga info ini bermanfaat bagi pembaca yang memiliki minat yang sama dengan saya. Salam IRT sukses! 

Minggu, 24 April 2016

Jejak Bisnis Online Femmy Maharani di Tanah Papua

Menjadi seorang ibu rumah tangga yang sepenuhnya di rumah adalah pilihan yang baik, namun menjadi ibu rumah tangga yang berbisnis adalah pilihan yang cerdas. Selain mengurus segala kebutuhan anggota keluarga, ibu cerdas juga perlu mengembangkan potensi diri sekaligus mendapatkan bonus berupa penghasilan tambahan dengan mengelola bisnis. Banyak peluang bisnis yang bisa dijalankan oleh ibu rumah tangga, namun banyak juga yang belum berani melangkah untuk memulai bisnis.

Kendala yang paling umum adalah modal dan waktu. Seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, biasanya kesulitan membagi waktu juga konsentrasi antara mengurus rumah tangga dengan berbisnis. Modal bisnis pun tak luput dari perhatian ibu rumah tangga dalam memulai bisnis, karena beranggapan sebuah bisnis harus dibuka dengan modal yang besar. Anggapan demikian tidak sepenuhnya benar, Femmy Maharani telah membuktikan bahwa bisnis tidak selalu membutuhkan modal yang besar dan bisa dilakukan dari rumah sambil mengurus rumah tangga.

Femmy, wanita lulusan Sekolah Menengah Atas yang gagap teknologi, memberanikan diri memulai bisnis yang mengandalkan pemasaran secara online pada Januari 2015. Bergabung menjadi salah satu konsultan Oriflame, membuka jalan bagi ibu dua orang putra ini untuk mengembangkan potensi diri sekaligus mendapatkan penghasilan dari berbisnis. Dengan memanfaatkan fasilitas dBC- Network yaitu : member area, e-training, dan tools marketing,  sangat membantu pemilik akun https://www.facebook.com/MaharaniFemmy ini untuk membebaskan diri dari gagap teknologi juga memperluas jaringan bisnis meskipun dijalankan dari rumahnya di Papua.

Kunci dari bisnis online Femmy adalah disiplin mengatur jadwal kerja. Menurutnya, bisnis yang dijalankan dari rumah juga harus memiliki aturan waktu dalam mengerjakannya. Bisnis Oriflame ia kerjakan 2 jam di pagi hari setelah selesai mengerjakan pekerjaan rumah, dilanjutkan dengan 4 jam di siang hari, kemudian 4 jam di malam hari. Setiap hari Femmy lakukan dengan konsisten, karena yakin yang ia lakukan merupakan proses yang harus dinikmati agar bisnisnya maju.

Berada jauh dari ibu kota tidak membuat Femmy berkecil hati mengelola bisnis Oriflame. Karena ia yakin, kesuksesan merupakan hak bagi siapa saja yang mau berusaha. Anda terinspirasi untuk sukses juga? Simak bisnis Femmy lebih lanjut denganmengakses web pribadi Femmy: http://femmymaharani.blogspot.co.id dan fanpage Femmy:  https://www.facebook.com/PageFemmyMaharany .

Jangan tunda esok hari, jika Anda bisa menentukan jalan sukses Anda dengan menapaki jejak sukses bisnis dari rumah ala Femmy Maharani hari ini. Lebih dekat dengan bisnis Femmy, langsung hubungi WA : 085244102778 atau PIN 5EE1CA80.





Selasa, 12 April 2016

Olah Asa

Bismillah,
Alhamdulillah atas hari yang masih Engkau berikan untuk hamba. Setidaknya ketika pagi datang, hati ini masih memberikan ruang untuk rasa syukur juga harapan. Di masa yang tak bisa ku sebut sebagai masa jaya untuk bisnis baruku, aku menitipkan sebuah asa pada kayuhan usaha ku yang mungkin belum semulus teman-teman. Setiap sujud pagi ku ketika si kecil tengah terlelap karena perut telah terisi gizi dan tubuh sudah resik mandi pagi, ku sematkan asa ku pada do'a. Semoga, semoga, dan semoga. Teriring kepasrahan pada Yang Maha Kaya, aku ini bukan siapa-siapa, aku pasrahkan hasil dari setiap kayuhan usaha ku. Di sini belum ku temukan teman sejalan. Aku kadang buntu karena tak ada lawan bicara. Bukan tak ku nikmati kebersamaan si kecil, namun asa ini terus mengusik agar aku terus bergerak. Mungkin dunia yang kini ada dalam genggaman ponsel pintar adalah dunia baruku untuk mencari teman sejalan. Biarpun hampir seperti terseok-seok, tak mengapa. Mungkin aku baru pantas menjadi sperti ini. Aku harus belajar, agar tak semakin tertinggal. Banyak yang belum ku punya untuk menggenggam kejayaan. Biarlah perlahan namun harus tetap pada kepastian. Aku harus berjuang mencari pintu yang terbuka untuk ku. Untuk semua asa yang ku yakin masih akan terus ada, aku pasti bisa !

Owner House of Athar Khalila,
Kupang, 13-April-2016

Senin, 11 April 2016

Karena Mengenalmu tak Cukup Semalam

Bismillah,
Selamat malam menjelang tidur 😴
Entah kenapa malam ini hati saya kembali terusik pada pria nekat yang sudah lelap tertidur dalam kelelahannya. Malam ini do'i (asik gaya anak 90-an banget 😀) lembur menyelesaikan pekerjaan nya di kantor. Pukul 21.00  ia baru pulang ke rumah. Seperti biasa, si kecil enggan bobo kalau ayahnya belum pulang. Masih mau main dan nonton tv. Kalau minta nonton dia bilang, "tivi...tivi.." lalu saya tanya, "emang athar mau nonton apa?", cepat si kecil menjawab,"bita!" Hihi...anak soleh udah ngerti berita tv. Okelah kita nonton berita sampai ayah pulang.
Akhirnya yang ditunggu tiba, si kecil yang sebenanrnya sudah mengantuk mulai cari perhatian ayah. Meskipun ayah juga kelihatan lelah, tapi tetap meladeni si kecil main sambil mendengar sepotong cerita hari ini dari saya. Hingga akhirnya si kecil benar-benar minta bobo, baru ayah rehat.
Ya Allah, ternyata dia benar-benar orang baik. Bukan seorang yang main-main dengan pilihannya. Sebutan orang nekat yang kadang saya jadikan bahan bercandaan dengannya justru menjadi nilai tambah bagi dirinya. Awalnya dia tidak mengenal saya sama sekali. Dia tidak tahu bagaimana sifat saya, tidak tahu keluarga saya, tidak tahu latar belakang saya, koq tahu-tahu bilang yakin mau menjadi imam saya. Dan anehnya lagi, koq ya saya juga mau aja ya? 😅
Selama menjalani rumah tangga, apalagi sejak jadi keluarga perantau, saya kembali menemukan sisi yang membentuk pribadi dirinya. Apa yang ia sukai, apa yang tidak ia sukai, ekspresi yang sebelumnya belum pernah terlihat,dan lain-lain deh. Hihi... mungkin inilah hikmah kita menjalani rumah tangga. Setiap hari ada momen kita saling belajar, kita saling kenalan, kita saling egois dengan pendapat kita tapi ujung-ujungnya baikan lagi, dan apa saja yang membuat kita semakin dewasa.
Sayang, saat aku memberikan pijatan pada tangan mu, aku tahu kamu begitu berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk kami. Tahu tidak? Tangan mu terasa lebih kasar dari sebelumnya. Ga masalah sih, tapi aku makin merasa disayang. Kamu pasti berusaha lebih bersungguh-sungguh dari sebelumnya. Di sini, kami belajar menjadi orang tua seutuhnya bagi anak kami. Kami berusaha memberikan perlindungan juga berusaha memenuhi kebutuhan si kecil dengan apa yang kami bisa. Allah amat menyayangi kami. Kami disatukan dalam cinta halal yang didalamnya banyak bernilai ibadah. Semoga kami mampu menjalani cinta halal ini hingga jannahNya. Semoga kami mampu terus belajar menjadi penyeimbang pribadi pasangan kami. Semoga kami mampu menjadi salah satu teladan bagi kehidupan rumah tangga keturunan kami selanjutnya. Aamiin
Selamat beristirahat kekasihku, lelahmu semoga menjadi amal soleh bagimu. Aamiin
I will love u always 😘

Kamis, 07 April 2016

Ibuku adalah Ibumu, Ibumu juga Ibuku

Bismillah,
Tulisan ini bukan tentang "Ibu yang Tertukar" ya 😂
Sahabat IRT masih bisa memeluk ibunya saat ini? Kalau begitu peluk dulu deh biar makin nambah rasa sayangnya ke ibu 😉
Saya adalah anak yang suka berdiskusi dengan ibu saya. Apalagi menjelang saya dikhitbah, woooo makin sering deh kita bicara dari hati ke hati. Banyak pesan yang beliau sampaikan pada saya. Meskipun beliau bukan ustadzah yang hafal ayat atau hafal hadits, namun nasihat beliau selalu beriringan dengan tuntunan Rasulullah. Dengan gaya khas nya bertutur, beliau sesekali menitikan air mata. Sesekali bayangan saya di masa kecil terlintas. Tiba-tiba ibu tersenyum tapi matanya terlihat ada genangan. Ibu menyadari bahwa masa ku menikah hampir tiba. Tidak ada lagi Dian yang suka berlarian sana-sini, tidak ada lagi Dian yang suka memanjat pohon jambu, tidak ada lagi Dian yang suka bernyanyi sambil menjerit-jerit, tidak ada lagi Dian yang.... ah dan masih banyak lagi memori masa kecilku yang "enggak banget" yang beliau ceritakan sambil tertawa tapi sekaligus menitikan air mata. Waktu cepat berlalu, tidak tahunya dulu bayi kecil ibu yang 3 hari 3 malam susah keluar dari rahim ibu kini sudah mau menikah. Ya bu, jodoh saya sudah Allah datangkan di hadapan kita. Semoga kedatanga nya bisa membuat diri saya lebih baik dan juga membuat saya tetap memiliki kesempatan beramal soleh terhadap ibu juga bapak. Aamiin.
Menikah menjadi pertanda beralihnya tanggung jawab orang tua ke pundak sang suami. Sepenuhnya saya menjadi tanggungan suami. Pakaian, makanan, dan minuman yang halal dan baik menjadi tnggung jawab suami. Termasuk bertanggung jawab terhadap akhlak dan ibadah saya. Suami menjadi imam, tak sekedar simbol kepemimpinan saja,namun juga pelopor dan panutan bagi perbaikan akhlak dan ibadah saya. Oleh karena itu, ibu saya berpesan untuk tidak melalaikan posisi suami sebagai imam. Dahulukan kebutuhan suami, muliakan orang tua nya, jagalah hubungan baik dengan keluarganya, baru setelah itu saya beramal soleh untuk kedua orang tua saya. Menjaga keluarga suami, berarti pula menjaga kehormatan suami, maka ridho suami pun akan datang. Apapun yang saya lakukan akan mendapat restu suami, dan jelas ini pun salah satu bentuk amal soleh untuk ibu dan bapak. Duh, ibu... 😭
Posisi saya adalah posisi paling strategis buat menjaga keharmonisan keluarga. Jika saya tak imbang memperlakukan keluarga saya dan keluarga suami, salah satu dari kita pasti akan tersakiti. Bukankah kita menikah untuk mencari ridho Nya, jika kita saling menyakiti apakah ridho Nya akan hadir untuk keluarga kita?
Sahabat IRT, sayangi mertua kita bagaimanapun sikapnya pada kita. Ingatlah pada Allah, bukalah jalan surgamu dengan menyayangi kedua orang tua kita, juga mertua kita. Realistis lah... suami yang saat ini mendampingi kita dengan sepenuh cintanya adalah anak yang orang tua nya besarkan dengan baik, bukan yang tiba-tiba besar lalu melamar kita (horor...ada kali manusia lahir tinggal dilepeh langsung gede 😝). Jika bagi kita sikap mertua kita kurang menyenangkan, ayo kita bercermin. Mungkin ada yang kurang baik juga dari diri kita. Bicaralah yang baik, seringlah menegurnya, ajaklah bercanda meskipun kadang garing, perlakukan mereka layaknya orang tua kita sendiri.
Semoga kita termasuk istri yang kehadirannya selalu dirindu suami juga ibu bapaknya. Semoga keberkahan selalu menyertai ruma tangga harmonis kita.Aamiin 😇

Kupang, 7 April 2016

Selasa, 05 April 2016

Jangan Memandang Bintang

Bismillah,
Salam simpati untuk para IRT yang sedang berjuang meraih gelar "mompreneur". Aih! Keren ya mama, ibu, ummi yang biasanya HANYA mengerjakan urusan domestik rumah tangga ternyata punya semangat wirausaha. Alhamdulillah, saya amat bersyukur teman-teman IRT masih mau melebarkan sayap kebermanfaatan untuk orang-orang di luar sana. Jangan salah kaprah dulu ya, menjadi mompreneur bukan saja sekedar mencari rupiah. Eksistensi, saling membantu sesama, belajar banyak hal baru, membuka diri untuk wawasan baru, serta menjadi isnpirasi bagi sesamanya juga menjadi beberapa tujuan mulia seorang IRT biasa bermetamorfosis menjadi mompreneur.
Namun, perlu diingat. Tidak ada yang mampu mencapai keberhasilan tanpa usaha. Dalam proses usaha tersebut, tidak selalu mulus lancar sesuai yang direncanakan. Apalagi buat mompreneur newbi macam saya. Mental masih lembek, punya mimpi muluk, usaha masih tergantung mood, suka baper, tapi cepet pengen sukses. Haha, manusiawi...tapi ga realistis!
Karena suka ikut training online sana sini, friendlist fb pun berubah komposisinya : 70% pebisnis, sisanya teman-teman masa SD sampai kerja dulu. Time line saya bisa ketebak dong isinya apa? Hihi...iklan! Mulai dari yang pakai teknik gendeng ala master copywritting, sampai yang to the point sama jualannya. Belum lagi status-status para master mompreneur yang kadang menginspirasi, kadang ada juga yang terkesan pamer keberhasilannya mencapai sukses dengan cara yang bla bla bla dan banyak melalui pengorbanan bla bla bla. Nah, ini nih yang suka meninju mataku sampai mau menangis. Saya kemudian bercermin pada bisnis yang sedang saya rintis. Hello...apa kabar? Belum baik.hehe... Yak! Bisnis baju koko batik saya belum bertemu jodohnya. Target marketnya belum ketemu betul. Baru sukses membidik segelintir orang saja. Yang lainnya? Baju koko batik saya dianggap mahal,  saya belum paham takaran mahal atau murah itu dari mana padahal liat barangnya aja belum. Belum tahu kualitas batik dan jahitannya, udah dinilai mahal (baper). Mencoba menawarkan ke orang terdekat, malah diminta sample (baper). Mau coba produksi agak banyak, dibikin kecewa sama yang jahit (baper). Dan masih banyak hal yang membuat episode baper saya makin panjang. Striping kali'?
Yah, itulah... mompreneur itu status istimewa (bagi saya). Karena itu adalah salah satu pintu menuju kebermanfaatan bagi IRT. Dengan membuka usaha, kita bisa berbagi rezeki dengan siapa saja yang mau kita ajak kerjasama. Sekali lagi memang TIDAK MUDAH namun bukan berarti TIDAK MUNGKIN.
Berhentilah menatap bintang. Kembalilah pada kakimu yang menapak di bumi. Mereka yang sudah berhasil juga mungkin pernah ada di posisi start seperti saya. Masing-masing dari kita telah Allah tetapkan rezekinya. Jangan merasa Allah tak adil, kita lah yang sebaiknya menyadari kepantasan kita pada level yang mana. Mungkin saya memang belum pantas jadi mompreneur sukses, biarlah. Mungkin lain waktu saya bisa, biarlah saya telan pahit-pahitnya proses ini. Siapa tahu Allah telah menyiapkan kejutan manis untuk bisnis saya kelak. Tapi, kalau masih banyak pahitnya juga berarti saya ga bakat jadi mompreneur (tuh kan baper lagi), bukan ding... tapi kalau memang masih banyak pahitnya berarti saya masih belum pantas sukses, karena yang berhasil mencapai sukses mampu mengubah yang pahit jadi energi positif untuk membuatnya melesat lebih jauh.
Biarlah ini menjadi catatan awal saya dalam menjalani bisnis baju koko batik saya. Sebagai pengingat saya di kemudian hari betapa cengeng nya saya di posisi start ini. Semoga Allah beri jalan agar bisnis mompreneur semua lancar dan berkah tentunya. Aamiin :-)

Owner House of Athar Khalila,
Kupang, 05-04-2016

Minggu, 03 April 2016

Balitaku Mulai Nakal ? Saatnya Introspeksi Diri Bunda

Bismillah...
Semoga hari ini IRT hebat tidak melakukan kesalahan yang sama seperti saya. Sungguh, malam ini ada gunung rasa sesal di relung hati saya. Sekarang saya sedang memandang wajah teduh yang terpejam. Terlihat seberkas rasa puas menghabiskan energi untuk bermain dan membongkar apa yang ia mau. Dari sudut ke sudut rumah kontrakan kami tak menyisakan sedikitpun kerapian, padahal sudah dua atau tiga kali rumah ini disapu dan ditata. Imajinasi serta rasa ingin tahunya semakin hari semakin membuat kewalahan. Dulu, si kecil lebih penurut. Tapi tidak hari ini. Dulu ia mudah diarahkan, namun sekarang sulit dikendalikan. Jika ia punya mau langsung ia lakukan, tak diindahkan apa yang saya katakan. Jam tidur siang ia lewatkan, lebih memilih bermain bersama anak tetangga yang baru pulang sekolah. Jika saya larang, tangisan sejadi-jadinya pun pecah. Jadwal pekerjaan jadi kacau, saya pun kehabisan energi juga mungkin akal, sampai terbesit kalimat "balitaku mulai nakal". Astagfirullah... 😖
Menyesal sekali rasanya. Apa yang barusan saya pikirkan tentang mu,nak? Prasangka macam apa itu? Maafkan ya,nak. Bundamu ini masih sedikit sekali ilmu sabar nya 😭

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَا مِنْ مَوُلُودٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلىَ الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتِجُ الْبَهِيْمَةُ بَهِيْمَةً جَمْعَاءَ هَلْ تُحِسُّونَ فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟

"Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanha lah yang akan menjadikannya sebagai yahudi, nasrani, atau majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga) ?"

Inilah kealpaan saya. Saya lupa bahwa anak adalah titipan Allah. Ada masa saya akan dihisab tentang cara mendidiknya. Apakah kelak anak saya menjadi anak yang mencintai orang tua nya sampai akhir hayatnya atau sebaliknya? Apakah kelak anak saya akan mengimani Allah atau sebaliknya? Apakah kelak anak saya menjadi orang yang bermanfaat bagi umat atau sebaliknya? Semua tidak nampak hari ini, tapi apa yang saya lakukan mulai hari ini akan menentukan jati dirinya di masa depan.

Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” –[QS. As-Sajdah (32): 56]

“Bantulah anak-anakmu agar berbakti! Barangsiapa yang mau melakukannya, ia dapat mengeluarkan sikap kedurhakaan dari diri anaknya.” –[HR. Ath Thabrani]

Ya Allah, seandainya anak ku tidak membuat berantakan isi rumah, apakah sebuah jaminan kelak ia tumbuh menjadi pemuda cerdas yang mencintai kerapihan? Seandainya anak ku tidak punya kemauan untuk bermain di jam tidur siangnya dengan anak tetangga apakah ada sebuah jaminan kelak ia menjadi seorang penurut yang selalu menepati jadwalnya dengan baik setiap hari ? Astagfirullah...ternyata saya menuntut terlalu banyak pada si kecil yang kemampuan nya tidak setara dengan saya. 😫👶
Semoga, penyesalan ini menjadi pelajaran buat bunda kurang ilmu macam saya. Ampuni hamba ya Allah, sesungguhnya si kecil adalah milikMu. Apapun yang sedang ia lakukan saat ini pasti tak luput dari pengetahuan Mu. Jadikan hamba seorang bunda yang pantas memiliki anak sholeh, mampukan hamba menyusuri proses ini dengan bekal kesabaran sebagai pelita hati. Jauhkan hamba dari prasangka buruk terhadap anak hamba, berilah petunjuk Mu agar hamba tak hilang arah menemukan jalan terbaik untuk keluarga hamba mencapai ridho Mu.
Untuk mas Athar Inspirasi Qolbun Saleem, maafkan bunda. Kita kerja sama memperbaiki yang salah, meluruskan yang belum benar, dan meningkatkan yang sudah baik, ya...
Yak! Kalau si kecil makin cerdas, bundanya harus lebih cerdas lagi dong! Setuju? 😘

Kupang, 3-April-2016

Sabtu, 02 April 2016

Merengkuh Surga dari Rumah

Bismillah...
Kabar baik ya sahabat IRT? Alhamdulillah. Semoga hati kita tetap lapang, pikiran tetap dingin, fisik juga mumpuni melaksanakan tugas negara setiap hari. Saya ingin mengajak sahabat IRT untuk bergembira. Please, jangan bersedih karena karier yang kalian tinggalkan. Sesungguhnya, inilah karier kita yang sesungguhnya. Menjadi seorang yang senantiasa ada untuk yang selalu merindukan rumah. Lagipula, sahabat kita yang berkarier pun ketika di rumah melepas label karier nya juga bukan? Di rumah posisi kita sama. Menjadi isteri yang melayani dan menjadi partner diskusi suami, juga menjadi ibu yang memberi perhatian dan menjadi teman bagi si kecil. Belum lagi bagi yang punya anak remaja. Hmmm...bisa jadi psikolog sekaligus teman curhat. Hehe...peranan kita fleksibel ya? Tergantung request saja :-)
Inilah yang sangat perlu kita sadari, sahabat. Betapa rumah adalah satu-satunya tempat yang paling diinginkan oleh anggota kelurga yang lain. Suami seharian bekerja di luar rumah, atau bahkan pergi dinas keluar kota berhari-hari lamanya, pasti ingin sekali kembali ke rumah. Anak kita yang sudah sibuk dengan tugas sekolah, atau bahkan yang sedang menuntut ilmu jauh dari rumah, pasti ingin kembali ke rumah. Rumah seakan menjadi tempat singgah terfavorit untuk melepaskan segala kesibukan. Rumah menjadi tempat rehat terbaik untuk mengisi ulang semangat sebelum kembali berjibaku dengan kesibukan meraih cita-cita.
Lalu, bagaimana dengan mimpi-mimpi kita? Adilkah ketika semua anggota keluarga yang lain bisa pergi menemukan jalan meraih cita-cita, sedangkan kita terjebak dalam rumah. Pernahkah sahabat berpikir demikian? Jika iya, kita sama. Saya pun kadang meratap dalam diamnya malam. Betapa saya ingin menjadi seperti diri saya ketika berstatus mahasiswi. Senang sekali rasanya masa itu. Keluar rumah selalu bisa memiliki arti. Kebermanfaatan, tidak hanya untuk saya, tapi juga untuk siapa saja. Seakan masa itu adalah masa paling produktif saya dalam berkarya. Saya punya teman, saya berorganisasi, saya berkarya, ahhh...rasanya senaaang sekali. Tapi, saya harus kembali pada realita. Bahwa dulu dan sekarang berbeda. Saya hidup di masa ini, bukan masa lalu.
Saya harus berdamai dengan kenyataan, namun bukan untuk menyesal atas pilihan ini. Saya kembalikan pada niat saya menikah. Saya dan suami menikah untuk beribadah. Sungguh, bukan materi atau anggapan positif dari orang lain yang menjadi tujuan kami. Niat kami harus kembali diluruskan. Kami bicarakan kelebihan dan kekurangan jika saya berperan sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga. Pilihan ini bukan berarti tanpa proses. Sempat juga saya mengikuti tes CPNS berbarengan dengan suami, karena sejak hamil dan resign dari tempat saya bekerja dulu saya masih memendam rasa haus ingin berkarya di luar rumah. Sepekan pasca operasi sc, kami bersama mengikuti proses tes. Hingga pada tes berikutnya saya dinyatakan lolos, hati saya mulai bimbang. Si kecil butuh saya. Si kecil butuh saya. Si kecil butuh saya. Terngiang-ngiang terus di benak saya, bahwa si kecil butuh saya. Dalam kebimbngan itu, saya kembalikan urusan ini pada Allah. Betapa kuat saya ingin agar kami bisa lulus bersama. Ini demi kelangsungan keluarga kami di masa depan, ketika suami mulai merasa tak menemukan keberkahan di tempat kerjanya. Jika kami tidak lulus, setidaknya berikan suami saya pekerjaan pengganti yang lebih baik dan berkah. Namun, ada satu doa yang semakin kuat saya sampaikan pada Allah, yaitu ridhoi suami hamba agar lulus. Kenapa bukan kami? Karena di situ saya takut jika Allah tak meridhoi. Jika kami lulus bersama, si kecil yang baru hitungan hari di dunia telah saya rampas haknya untuk memiliki seorang bunda yang amat ia butuhkan. Saya tidak menginginkan itu. Biarlah saya ganti haluan mimpi saya untuk berkarya dari rumah, bukan berkarya di luar rumah. Menyesal? Tidak. Saya tidak menyesal. Karena Allah ternyata benar-benar meridhoi suami saya lulus. Saya menjadi penyeimbang hidupnya, meluruskan niat kami membangun rumah tangga.
Kini, kami berada jauh dari orang tua kami. Suami saya menjadi abdi negara yang bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Kupang, Nusa Tenggara Timur, di sinilah kami sekarang. Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kepulauan. Kami layaknya orang asing di sini, tanpa kerabat atau saudara. Biarlah, inilah titian tangga kami yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dimanapun kami berada, selama kami mampu mengingat nama NYA, kami yakin kami masih diberi petunjuk dan perlindungan NYA.
Sahabat IRT, kita bisa meraih apa yang menjadi cita-cita kita asalkan ada kemauan juga restu dari suami. Restu suami menjadi pembuka pintu ridho Allah. Apa yang membuat kita galau sampai merapuh, tinggalkanlah. Jangan dirasa terlalu dalam. Jadikan suami sebagai teman diskusi. Apa yang kita rasakan, utarakan. Karena, ketika suami lebih mengharapkan kita berada di rumah ketika itu pula ia menyanggupi untuk melakukan yang terbaik untuk kita dan anak-anak kita. Percayalah, di situ ada ridho juga jaminan dari Allah tentang rezeki kita.
Sebagai penutup, yuk kita cari makna kebahagiaan kita di rumah. Bukankah kita bahagia jika anak yang kita rawat dengan tangan kita sendiri tumbuh menjadi sehat, cerdas, dan berakhlak mulia? Bukankah kita pun bahagia ketika suami kita menapaki jenjang karier penuh prestasi? Bukankah kita bahagia jika mereka membutuhkan kita di rumah? Berbahagialah sahabatku, jadilah bagian dari setiap langkah yang mereka jalani. Jadilah seorang yang namanya selalu terukir di hati mereka, meskipun kau tak menemukan satu catatan pun namamu ada di lembar keberhasilan mereka. Ingatlah Tuhan mu Maha Mengetahui apa yang kau perjuangkan. Semoga hari-harimu makin bermakna dengan berkarya di rumah.
Sekali lagi, jangan bersedih sahabat. Jangankan kebahagiaan, surga pun mampu kita rengkuh dari rumah atas ridho NYA. BERBAHAGIALAH IRT :-)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)