Bismillah...
Kabar baik ya sahabat IRT? Alhamdulillah. Semoga hati kita tetap lapang, pikiran tetap dingin, fisik juga mumpuni melaksanakan tugas negara setiap hari. Saya ingin mengajak sahabat IRT untuk bergembira. Please, jangan bersedih karena karier yang kalian tinggalkan. Sesungguhnya, inilah karier kita yang sesungguhnya. Menjadi seorang yang senantiasa ada untuk yang selalu merindukan rumah. Lagipula, sahabat kita yang berkarier pun ketika di rumah melepas label karier nya juga bukan? Di rumah posisi kita sama. Menjadi isteri yang melayani dan menjadi partner diskusi suami, juga menjadi ibu yang memberi perhatian dan menjadi teman bagi si kecil. Belum lagi bagi yang punya anak remaja. Hmmm...bisa jadi psikolog sekaligus teman curhat. Hehe...peranan kita fleksibel ya? Tergantung request saja :-)
Inilah yang sangat perlu kita sadari, sahabat. Betapa rumah adalah satu-satunya tempat yang paling diinginkan oleh anggota kelurga yang lain. Suami seharian bekerja di luar rumah, atau bahkan pergi dinas keluar kota berhari-hari lamanya, pasti ingin sekali kembali ke rumah. Anak kita yang sudah sibuk dengan tugas sekolah, atau bahkan yang sedang menuntut ilmu jauh dari rumah, pasti ingin kembali ke rumah. Rumah seakan menjadi tempat singgah terfavorit untuk melepaskan segala kesibukan. Rumah menjadi tempat rehat terbaik untuk mengisi ulang semangat sebelum kembali berjibaku dengan kesibukan meraih cita-cita.
Lalu, bagaimana dengan mimpi-mimpi kita? Adilkah ketika semua anggota keluarga yang lain bisa pergi menemukan jalan meraih cita-cita, sedangkan kita terjebak dalam rumah. Pernahkah sahabat berpikir demikian? Jika iya, kita sama. Saya pun kadang meratap dalam diamnya malam. Betapa saya ingin menjadi seperti diri saya ketika berstatus mahasiswi. Senang sekali rasanya masa itu. Keluar rumah selalu bisa memiliki arti. Kebermanfaatan, tidak hanya untuk saya, tapi juga untuk siapa saja. Seakan masa itu adalah masa paling produktif saya dalam berkarya. Saya punya teman, saya berorganisasi, saya berkarya, ahhh...rasanya senaaang sekali. Tapi, saya harus kembali pada realita. Bahwa dulu dan sekarang berbeda. Saya hidup di masa ini, bukan masa lalu.
Saya harus berdamai dengan kenyataan, namun bukan untuk menyesal atas pilihan ini. Saya kembalikan pada niat saya menikah. Saya dan suami menikah untuk beribadah. Sungguh, bukan materi atau anggapan positif dari orang lain yang menjadi tujuan kami. Niat kami harus kembali diluruskan. Kami bicarakan kelebihan dan kekurangan jika saya berperan sebagai wanita karier dan ibu rumah tangga. Pilihan ini bukan berarti tanpa proses. Sempat juga saya mengikuti tes CPNS berbarengan dengan suami, karena sejak hamil dan resign dari tempat saya bekerja dulu saya masih memendam rasa haus ingin berkarya di luar rumah. Sepekan pasca operasi sc, kami bersama mengikuti proses tes. Hingga pada tes berikutnya saya dinyatakan lolos, hati saya mulai bimbang. Si kecil butuh saya. Si kecil butuh saya. Si kecil butuh saya. Terngiang-ngiang terus di benak saya, bahwa si kecil butuh saya. Dalam kebimbngan itu, saya kembalikan urusan ini pada Allah. Betapa kuat saya ingin agar kami bisa lulus bersama. Ini demi kelangsungan keluarga kami di masa depan, ketika suami mulai merasa tak menemukan keberkahan di tempat kerjanya. Jika kami tidak lulus, setidaknya berikan suami saya pekerjaan pengganti yang lebih baik dan berkah. Namun, ada satu doa yang semakin kuat saya sampaikan pada Allah, yaitu ridhoi suami hamba agar lulus. Kenapa bukan kami? Karena di situ saya takut jika Allah tak meridhoi. Jika kami lulus bersama, si kecil yang baru hitungan hari di dunia telah saya rampas haknya untuk memiliki seorang bunda yang amat ia butuhkan. Saya tidak menginginkan itu. Biarlah saya ganti haluan mimpi saya untuk berkarya dari rumah, bukan berkarya di luar rumah. Menyesal? Tidak. Saya tidak menyesal. Karena Allah ternyata benar-benar meridhoi suami saya lulus. Saya menjadi penyeimbang hidupnya, meluruskan niat kami membangun rumah tangga.
Kini, kami berada jauh dari orang tua kami. Suami saya menjadi abdi negara yang bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Kupang, Nusa Tenggara Timur, di sinilah kami sekarang. Salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki kepulauan. Kami layaknya orang asing di sini, tanpa kerabat atau saudara. Biarlah, inilah titian tangga kami yang telah Allah tetapkan untuk kami. Dimanapun kami berada, selama kami mampu mengingat nama NYA, kami yakin kami masih diberi petunjuk dan perlindungan NYA.
Sahabat IRT, kita bisa meraih apa yang menjadi cita-cita kita asalkan ada kemauan juga restu dari suami. Restu suami menjadi pembuka pintu ridho Allah. Apa yang membuat kita galau sampai merapuh, tinggalkanlah. Jangan dirasa terlalu dalam. Jadikan suami sebagai teman diskusi. Apa yang kita rasakan, utarakan. Karena, ketika suami lebih mengharapkan kita berada di rumah ketika itu pula ia menyanggupi untuk melakukan yang terbaik untuk kita dan anak-anak kita. Percayalah, di situ ada ridho juga jaminan dari Allah tentang rezeki kita.
Sebagai penutup, yuk kita cari makna kebahagiaan kita di rumah. Bukankah kita bahagia jika anak yang kita rawat dengan tangan kita sendiri tumbuh menjadi sehat, cerdas, dan berakhlak mulia? Bukankah kita pun bahagia ketika suami kita menapaki jenjang karier penuh prestasi? Bukankah kita bahagia jika mereka membutuhkan kita di rumah? Berbahagialah sahabatku, jadilah bagian dari setiap langkah yang mereka jalani. Jadilah seorang yang namanya selalu terukir di hati mereka, meskipun kau tak menemukan satu catatan pun namamu ada di lembar keberhasilan mereka. Ingatlah Tuhan mu Maha Mengetahui apa yang kau perjuangkan. Semoga hari-harimu makin bermakna dengan berkarya di rumah.
Sekali lagi, jangan bersedih sahabat. Jangankan kebahagiaan, surga pun mampu kita rengkuh dari rumah atas ridho NYA. BERBAHAGIALAH IRT :-)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan shalat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar