Bismillah,
Tulisan ini bukan tentang "Ibu yang Tertukar" ya 😂
Sahabat IRT masih bisa memeluk ibunya saat ini? Kalau begitu peluk dulu deh biar makin nambah rasa sayangnya ke ibu 😉
Saya adalah anak yang suka berdiskusi dengan ibu saya. Apalagi menjelang saya dikhitbah, woooo makin sering deh kita bicara dari hati ke hati. Banyak pesan yang beliau sampaikan pada saya. Meskipun beliau bukan ustadzah yang hafal ayat atau hafal hadits, namun nasihat beliau selalu beriringan dengan tuntunan Rasulullah. Dengan gaya khas nya bertutur, beliau sesekali menitikan air mata. Sesekali bayangan saya di masa kecil terlintas. Tiba-tiba ibu tersenyum tapi matanya terlihat ada genangan. Ibu menyadari bahwa masa ku menikah hampir tiba. Tidak ada lagi Dian yang suka berlarian sana-sini, tidak ada lagi Dian yang suka memanjat pohon jambu, tidak ada lagi Dian yang suka bernyanyi sambil menjerit-jerit, tidak ada lagi Dian yang.... ah dan masih banyak lagi memori masa kecilku yang "enggak banget" yang beliau ceritakan sambil tertawa tapi sekaligus menitikan air mata. Waktu cepat berlalu, tidak tahunya dulu bayi kecil ibu yang 3 hari 3 malam susah keluar dari rahim ibu kini sudah mau menikah. Ya bu, jodoh saya sudah Allah datangkan di hadapan kita. Semoga kedatanga nya bisa membuat diri saya lebih baik dan juga membuat saya tetap memiliki kesempatan beramal soleh terhadap ibu juga bapak. Aamiin.
Menikah menjadi pertanda beralihnya tanggung jawab orang tua ke pundak sang suami. Sepenuhnya saya menjadi tanggungan suami. Pakaian, makanan, dan minuman yang halal dan baik menjadi tnggung jawab suami. Termasuk bertanggung jawab terhadap akhlak dan ibadah saya. Suami menjadi imam, tak sekedar simbol kepemimpinan saja,namun juga pelopor dan panutan bagi perbaikan akhlak dan ibadah saya. Oleh karena itu, ibu saya berpesan untuk tidak melalaikan posisi suami sebagai imam. Dahulukan kebutuhan suami, muliakan orang tua nya, jagalah hubungan baik dengan keluarganya, baru setelah itu saya beramal soleh untuk kedua orang tua saya. Menjaga keluarga suami, berarti pula menjaga kehormatan suami, maka ridho suami pun akan datang. Apapun yang saya lakukan akan mendapat restu suami, dan jelas ini pun salah satu bentuk amal soleh untuk ibu dan bapak. Duh, ibu... 😭
Posisi saya adalah posisi paling strategis buat menjaga keharmonisan keluarga. Jika saya tak imbang memperlakukan keluarga saya dan keluarga suami, salah satu dari kita pasti akan tersakiti. Bukankah kita menikah untuk mencari ridho Nya, jika kita saling menyakiti apakah ridho Nya akan hadir untuk keluarga kita?
Sahabat IRT, sayangi mertua kita bagaimanapun sikapnya pada kita. Ingatlah pada Allah, bukalah jalan surgamu dengan menyayangi kedua orang tua kita, juga mertua kita. Realistis lah... suami yang saat ini mendampingi kita dengan sepenuh cintanya adalah anak yang orang tua nya besarkan dengan baik, bukan yang tiba-tiba besar lalu melamar kita (horor...ada kali manusia lahir tinggal dilepeh langsung gede 😝). Jika bagi kita sikap mertua kita kurang menyenangkan, ayo kita bercermin. Mungkin ada yang kurang baik juga dari diri kita. Bicaralah yang baik, seringlah menegurnya, ajaklah bercanda meskipun kadang garing, perlakukan mereka layaknya orang tua kita sendiri.
Semoga kita termasuk istri yang kehadirannya selalu dirindu suami juga ibu bapaknya. Semoga keberkahan selalu menyertai ruma tangga harmonis kita.Aamiin 😇
Kupang, 7 April 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar